Kalibrasi temperature pada PT100

 Abstrak  Kalibrasi temperatur berupa PT100 maupun thermocouple dapat menggunakan metode perbandingan maupun simulasi.  Metode perbandingan digunakan dengan cara membandingkan kalibrator standar berupa es batu maupun air mendidih  terhadap indikator digital controller E5EK Omron. Data pengukuran temperatur dihitung melalui ketidakpastian standar,  ketidakpastian master, ketidakpastian gabungan, dan ketidakpastian terentang. Hasil data pengukuran dibuat Simulasi  dengan manipulasi data pada indikator digital controller E5EK Omron dengan cara mencari InsL dan InsH untuk  menentukan nilai nominal temperatur.  Abstract  Temperature Calibration of PT100 and Thermocouple. The method of comparison used by comparing the calibrator  standard form of ice cubes and boiling water to E5EK Omron controllers digital indicators. Temperature measurement  data is calculated through a standard uncertainty, uncertainty master, uncertainty and uncertain...

Pengertian dan Prinsip Kerja Sensor RTD (Resistance Temperature Detector)

 merupakan singkatan dari Resistance Temperature Detector

adalah sensor suhu yang pengukurannya menggunakan

prinsip perubahan resistansi atau hambatan listrik logam

yang dipengaruhi oleh perubahan suhu. RTD adalah salah

satu sensor suhu yang paling banyak digunakan dalam

otomatisasi dan proses kontrol.

Pada tipe elemen wire-wound atau tipe standar, RTD terbuat

dari kawat yang tahan korosi, yang dililitkan pada bahan

keramik atau kaca, yang kemudian ditutup dengan selubung

probe sebagai pelindung. Selubung probe ini biasanya

terbuat dari logam inconel (logam dari paduan besi, chrom,

dan nikel). Inconel dipilih sebagai selubung dari RTD karena

tahan korosi dan Ketika ditempatkan dalam medium cair atau

gas, selubung inconel cepat dalam mencapai suhu medium

tersebut. Antara kawat RTD dan selubung juga terdapat

keramik (porselen isolator) sebagai pencegah hubung

pendek antara kawat platina dan selubung pelindung.

Perhatikan gambar dibawah ini.

Sedangkan jenis logam untuk kawat dari RTD umumnya

adalah platina. Kawat RTD biasanya juga terbuat dari

tembaga dan nikel. Namun platina adalah bahan yang paling

umum digunakan, karena memiliki tingkat akurasi yang lebih

baik dan rentang suhu yang lebih luas.

Bagaimana prinsip kerja RTD?

Ketika suhu elemen RTD meningkat, maka resistansi elemen

tersebut juga akan meningkat. Dengan kata lain, kenaikan

suhu logam yang menjadi elemen resistor RTD berbanding

lurus dengan resistansinya. elemen RTD biasanya ditentukan

sesuai dengan resistansi mereka dalam ohm pada nol derajat

celcius (0 C). Spesifikasi RTD yang paling umum adalah 100

Ω (RTD PT100), yang berarti bahwa pada suhu 0 C, elemen

RTD harus menunjukkan nilai resistansi 100 Ω.

Dalam prakteknya, arus listrik akan mengalir melalui elemen

RTD (elemen resistor) yang terletak pada tempat atau daerah

yang mana suhunya akan diukur. Nilai resistansi dari RTD

kemudian akan diukur oleh instrumen alat ukur, yang

kemudian memberikan hasil bacaan dalam suhu yang tepat,

pembacaan suhu ini didasarkan pada karakteristik resistansi

yang diketahui dari RTD.

Elemen sensor RTD mempunyai dua tipe konfigurasi yangp palingu yaitu

1. Wire-wound

Seperti yang dijelaskan pada sebelumnya, wire-wound

merupakan tipe elemen yang terdiri dari kumparan kawat

logam (platina) yang melilit keramik atau kaca, yang

ditempatkan atau ditutup dengan selubung probe sebagai pelindung.

2. Thin-film

Thin-film merupakan tipe elemen RTD yang terdiri dari

lapisan bahan resistif yang sangat tipis (umumnya platina),

yang diletakkan pada substrat keramik yang kemudian

dilapisi dengan epoxy atau kaca sebagai segel atau pelindung.

RTD memiliki 3 macam konfigurasi koneksi kabel yaitu: 2

wire, 3 wire, dan 4 wire RTD.

Sama halnya seperti platina, Tembaga (kabel) juga memiliki

nilai resistansi. Resistansi sepanjang kabel tembaga ini

dapat berdampak pada pengukuran resistansi yang

dilakukan oleh instrumen alat ukur. RTD 2 kabel (2 wire)

praktis tidak memiliki perhitungan resistansi yang terkait

dengan kabel tembaga, sehingga mengurangi keakuratan

pengukuran elemen sensor suhu RTD. Akibatnya RTD 2 wire

umumnya hanya digunakan untuk kebutuhan pengukuran

suhu perkiraan saja.

RTD 3 kabel (3 wire) adalah spesifikasi yang paling umum

yang biasa digunakan pada aplikasi-aplikasi di industri. RTD

3 wire menggunakan rangkaian pengukuran jembatan

wheatstone untuk mengkompensasi nilai resistansi kabel.

Perhatikan gambar di bawah ini.

Dalam konfigurasi RTD 3 wire ini, kabel “A” dan “B” harus

memiliki kedekatan atau panjang yang sama. Panjang kabel

ini sangat berarti karena tujuan dari jembatan wheatstone

adalah untuk membuat impedansi dari kabel A dan B. Dan

kabel C berfungsi sebagai pembawa arus yang sangat kecil.

RTD 4 kabel (4 wire) adalah konfigurasi yang paling akurat

dari yang lainnya. Karena dalam RTD 4 kabel ini dapat

sepenuhnya mengkompensasi resistansi dari kabel, tanpa

perlu memberikan perhatian khusus pada panjang masing –masing kabel.

Kelebihan dan kekurangan RTD bila dibandingkan dengan

Thermocouple

•Rentang pengukuran: RTD dapat mengukur suhu

hingga 1000 C, akan tetapi sulit mendapatkan

pengukuran yang akurat dari RTD dengan suhu

diatas 400 C. Termokopel dapat mengukur suhu

sampai 1700 C. Umumnya RTD digunakan pada

suhu dibawah 850 C, dan bila suhu diatas 850 C

biasanya menggunakan termokopel. Pengukuran

suhu di industri biasanya 200 C sampai 400 C,

sehingga RTD mungkin menjadi pilihan terbaik

dalam kisaran suhu tersebut.

•Waktu respon (response time): RTD mempunyai

respon yang cepat terhadap perubahan suhu akan

tetapi kemampuan termokopel dalam merespon

suhu jauh lebih cepat.

•Getaran (vibration): termokopel tidak terpengaruh

terhadap getaran, sedangkan RTD terpengaruh

bila ada getaran atau goncangan, sehingga bila

RTD diperlukan maka RTD thin-film biasa

digunakan karena RTD thin-film lebih tahan

terhadap getaran bila dibandingkan dengan RTD standar.

•Pemanasan sendiri (self-heating): sebuah RTD

terdiri dari kawat atau pelapis yang sangat halus

dan membutuhkan tegangan dari power supply,

sedangkan termokopel tidak memerlukan.

Meskipun arus yang diperlukan hanya sekitar 1

mA sampai 10 mA, hal ini dapat menyebabkan

elemen platina RTD “memanas”. Sehingga

mempengaruhi tingkat akurasi pengukuran. Hal

ini mungkin terjadi bila kabel ekstensi panjang

digunakan, sehingga daya yang lebih besar

mungkin diperlukan untuk mengatasi hambatan

atau resistansi kabel, dan hal ini mengakibatkan

masalah pemanasan sendiri (self-heating)

meningkat.

•Akurasi pengukuran: secara umum RTD lebih

akurat daripada termokopel. RTD menghasilkan

akurasi hingga 0,1 C sedangkan termokopel

hanya 1 C.

•Stabilitas: stabilitas jangka panjang dari RTD

sangat baik, yang berarti pembacaan yang akan

berulang dan stabil dalam waktu yang lama.

Sedangkan termokopel cenderung tidak stabil

karena EMF yang dihasilkan oleh termokopel

dapat berubah dari waktu ke waktu karena

oksidasi, korosi, dan perubahan lain dalam sifat

metalurgi dari elemen sensor atau penginderaan.

•Harga: meskipun ini bukan masalah teknis tapi

mungkin ini penting, termokopel memiliki harga

yang jauh lebih murah daripada RTD.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dasar teori PLC

Cara menjadi technician instrument

Jenis-jenis valve dan fungsinya