Cara menjadi technician instrument
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Judul posting kali ini nampak seperti hal yang teknis, seperti ungkapan “Cara membuat
telur dadar”, yang menjelaskan teknik membuat telur dadar. Padahal judul tersebut
terinspirasi dari pertanyaan dari beberapa teman TeknisiInstrument yang sering
menanyakan “Bagaimana cara menjadi teknisi instrument?”. Sebenarnya ada hal yang
berbeda dari “Cara membuat telur dadar” dengan “Cara menjadi teknisi instrument”.
Dimana letak perbedaannya? Silakan lanjutkan membaca artikel ini :).
Seperti dituliskan di atas, TeknisiInstrument pernah menerima beberapa kali pertanyaan
“Bagaimana cara menjadi teknisi instrument”. Ya redaksional pertanyaannya yang sering
diterima TeknisiInstrument memang seperti itu. Mungkin kalau ditelaah ulang,
pertanyaannya akan menjadi “Apa saja syarat untuk bisa menjadi teknisi instrument”. Ya,
kalau boleh berasumsi, itulah mungkin pertanyaan yang cocok.
Pada salah satu postingan di blog ini, TeknisiInstrument pernah menulis mengenai
pemahaman awam TeknisiInstrument menganai Instrumentasi. Pada artikel tersebut
dikupas sedikit dengan alakadarnya mengenai apa itu instrumentasi, yang meliputi hal
berikut:
1. Measeurement (pengukuran)
2. Comparison (pembandingan dengan setpoint)
3. Judgement (pengambilan keputusan atas hasil pemandingan)
4. Correction (perbaikan penyimpangan)
Jika berminat mengetahui apakah itu instrumentasi yang dipaparkan ala teknisi, bisa dilihat
di posting berikut yang menggupas mengenai apakah instrumentasi itu.
Kembali kepada keempat hal yang disebutkan di atas (measurement, comparison,
judgement dan correction), jika disederhanakan, pada dunia instrumentasi ada dua hal
yang mendasar yaitu, mengukur dan mengatur/mengendalikan/mengontrol (silakan
pilih salah satu istilahnya hehe, pada artikel ini saya pilih istilah “mengendalikan”).
Jadi, bagaimana caranya menjadi teknisi instrument?
Dilihat dari intisarinya: mengukur dan mengendalikan. Sebelum bisa menjawab pertanyaan
di atas, kita harus tahu dulu: apanya yang diukur? dan apanya yang dikendalikan?
Pada dunia instrumentasi, pengukuran dilakukan untuk mengetahui kuantitas dari besaran
proses yang sedang dikendalikan, misalnya pengukuran tinggi permukaan zat cair pada
sebuah tangki ataupun bejana, pengukuran temperatur sebuah tungku pembakaran,
pengukuran aliran fluida, dan lain-lain. Sedangkan pengendalian merupakan proses koreksi
dari hasil perbandingan besaran yang diinginkan dengan besaran yang didapatkan dari
hasil pengukuran. Sederhananya, jika ketinggian sebuah zat cair terlalu tinggi, maka
diturunkan, jika aliran sebuah fluida terlalu besar, maka dikecilkan, dan lain sebagainya.
Jadi, bagimana caranya menjadi teknisi instrument?
Kita ambil salah satu contoh saja, misalnya mengenai pengukuran ketinggian zat cair di
dalam sebuah tangki atau bejana. Untuk dapat mengukur ketinggian zat cair pada sebuah
tangki atau bejana, kita harus mengetahui karakter zat cair. Singkatnya, kita harus tahu
karakter fisis dari zat cair, sehingga ketinggian zat cair bisa diukur. Untuk mendapatkan
gambaran, silakan baca artikel terkait mengenai cara mengukur ketinggian zat cair melalui
pendekatan tekanan. Dari artikel tersebut kita bisa mendapat gambaran, bahwa untuk bisa
mengukur ketinggian zat cair di dalam sebuah tangki atau bejana kita perlu matematika
dan sedikit fisika. Sedikit bacaan mengenai pengukuran ketinggian zat cair, bisa dilihat di
sini
Sekarang silakan coba baca artikel berikut mengenai switch di sini dan di sini, dari dua
artikel tersebut, ternyata kita juga perlu tahu mengenai kelistrikan.
Sampai di sini, sudah terkumpul beberap hal yang harus diketahui oleh teknisi instrument:
sedikit matematika, sedikit fisika dan sedikit kelistrikan.
Jika mau dipaparkan kasus-per-kasus untuk diambil contoh, mungkin artikelnya akan
menjadi terlalu panjang. Sekarang mari kita persingkat. Sekarang ini, dunia dijejali dengan
teknologi yang berbasis elektronik baik analog dan digital, serta teknologi komputasi dan
kelengkapannya, serta teknologi informasi yang menjadi sarana tukar menukar informasi.
Tak terkecuali pada dunia instrumentasi.
representasi parameter (sinyal)
Salah satu contoh sederhana bisa dilihat pada gambar di atas, ketinggian zat cair pada
tangki bisa ditampilkan dalam sebuah layar komputer. Mari kita telusuri:
1. Hubungan antara ketinggian zat cair dengan tekanan hidrostatis (ilmu fisika dan
penerapannya).
2. Membaca tekanan hidrostatis dan mengubahnya menjadi sinyal elektrik/elektronik
yang bisa dikirim ke perangkat lain (ilmu elektrik/elektronik).
3. Sinyal elektrik dibaca dan diproses menjadi sinyal yang berguna pada DCS, PLC,
controller (ilmu elektronik, mikrokontroler, ilmu digital dll)
4. Menampilkan data dari DCS, PLC, controller pada monitor komputer (ilmu komputer,
software dan/atau hardware)
Jadi, bagaimana caranya menjadi teknisi instrument?
Oh ya, lupa, mari kita fokus lagi:
Untuk bisa menjadi teknisi instrument, silakan cermati saja hal-hal yang digambarkan pada
tulisan di atas.
Sekolah untuk menjadi teknisi instrument?
Umumnya itu adalah pertanyaan lanjutan dari pertanyaan pertama. Dulu, jaman
TeknisiInstrument mulai bekerja, perusahaan-perusahaan besar masih menerima lulusan
STM (sekarang SMK) untuk dapat menjadi teknisi instrument, dan di Cimahi ada sebuah
STM empat tahun yang memiliki jurusan Instrumentasi Industri, Gambarannya bisa dibaca
di sini. Kalau di daerah lain, TeknisiInstrument tidak tahu ada atau tidak jurusan tersebut.
Saat ini, ngobrol-ngobrol dengan teknisi instrument yang masih belia, untuk menjadi teknisi
instrument di perusahaan tertentu, konon harus D-3 jurusan tertentu. Duh.. Gusti… semakin
berat saja syarat bekerja itu… Dan konon juga, jurusan dimaksud ada yang menyebutkan
elektronika instrumentasi, elektronika, IT dll.
Jadi, bagaimana caranya menjadi teknisi instrument?
Baiklah, mari kita simpulkan tulisan simpang siur ini. Karena aturan administratif dari
perusahaan yang akan merekrut seorang teknisi instrumentasi, lulus dari sekolah formal.memang diperlukan, baik sekolah menengah maupun perguruan tinggi, tergantung dari
perusahaan yang membutuhkannya. Jurusannya bisa dipilih berdasarkan paparan di atas,
mana yang kira-kira rada nyambung, bisa jurusan elektronika, listrik, fisika dan lain-lain
yang kira-kira berhubungan.
Jika saat sekolah/kuliah belum pernah sekalipun memegang peralatan instrument,
sepertinya kursus instrumentasi bisa menjadi pilihan untuk membekali diri. Selain kursus,
untuk bisa bersentuhan dengan peralatan instrumentasi secara langsung, bisa
memanfaatkan saat-saat PKL (Praktek Kerja Lapangan) untuk benar-benar mengenali
peralatan instrumentasi.
Jika ingin bersentuhan dengan banyak peralatan instrumentasi, cobalah untuk melamar ke
perusahaan yang sering menangani proyek-proyek instrumentasi atau EPCI, jangan tanya
EPCI itu apa ya.. hehehe), karena pada perusahaan proyek tersebut biasanya ada kegiatan
pemasangan, commissioning, troubleshooting dll, pokoknya lengkap. Cobalah untuk
menjadi helper terlebih dahulu sebagai starting point.
Pelajaran sekolah apa yang sangat bermanfaat untuk menjadi teknisi
instrument?
Sederhana sebetulnya, pelajaran yang sangat bermanfaat untuk menjadi teknisi instrument,
dan bahkan (mungkin) jenis pekerjaan lainnya, adalah pelajaran SD atau sekolah dasar.
Lho, koq bisa…? Ya, pelajaran yang dimaksud adalah membaca dan menulis. Tentunya
dengan tidak merendahkan pelajaran lanjutan lainnya seperti matematika, fisika dan lain-
lain, hanya saja, membaca dan menulis adalah modal bekerja. Karena setiap peralatan
instrumentasi umumnya dilengkapi dengan buku panduan bagaimana cara menanganinya,
dari mulai memilih, memasang, mengkonfigurasi, merawat dll. Sehingga untuk bisa
menangani peralatan instrument tersebut, kita harus membaca buku panduannya, dan
menuliskan hal-hal penting untuk referensi. Dan satu lagi, karena umumnya buku panduan
dimaksud kebanyakan menggunakan Bahasa Inggris, alangkah bijaknya jika bahasa
tersebut kita pelajari sebagai modal.
Demikian pemaparan yang (mungkin) ngawur mengenai bagaimana caranya menjadi
teknisiinstrument. Semoga bermanfaat.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar