Kalibrasi temperature pada PT100

 Abstrak  Kalibrasi temperatur berupa PT100 maupun thermocouple dapat menggunakan metode perbandingan maupun simulasi.  Metode perbandingan digunakan dengan cara membandingkan kalibrator standar berupa es batu maupun air mendidih  terhadap indikator digital controller E5EK Omron. Data pengukuran temperatur dihitung melalui ketidakpastian standar,  ketidakpastian master, ketidakpastian gabungan, dan ketidakpastian terentang. Hasil data pengukuran dibuat Simulasi  dengan manipulasi data pada indikator digital controller E5EK Omron dengan cara mencari InsL dan InsH untuk  menentukan nilai nominal temperatur.  Abstract  Temperature Calibration of PT100 and Thermocouple. The method of comparison used by comparing the calibrator  standard form of ice cubes and boiling water to E5EK Omron controllers digital indicators. Temperature measurement  data is calculated through a standard uncertainty, uncertainty master, uncertainty and uncertain...

Cara menjadi technician instrument

 Judul posting kali ini nampak seperti hal yang teknis, seperti ungkapan “Cara membuat

telur dadar”, yang menjelaskan teknik membuat telur dadar. Padahal judul tersebut

terinspirasi dari pertanyaan dari beberapa teman TeknisiInstrument yang sering

menanyakan “Bagaimana cara menjadi teknisi instrument?”. Sebenarnya ada hal yang

berbeda dari “Cara membuat telur dadar” dengan “Cara menjadi teknisi instrument”.

Dimana letak perbedaannya? Silakan lanjutkan membaca artikel ini :).

Seperti dituliskan di atas, TeknisiInstrument pernah menerima beberapa kali pertanyaan

“Bagaimana cara menjadi teknisi instrument”. Ya redaksional pertanyaannya yang sering

diterima TeknisiInstrument memang seperti itu. Mungkin kalau ditelaah ulang,

pertanyaannya akan menjadi “Apa saja syarat untuk bisa menjadi teknisi instrument”. Ya,

kalau boleh berasumsi, itulah mungkin pertanyaan yang cocok.

Pada salah satu postingan di blog ini, TeknisiInstrument pernah menulis mengenai

pemahaman awam TeknisiInstrument menganai Instrumentasi. Pada artikel tersebut

dikupas sedikit dengan alakadarnya mengenai apa itu instrumentasi, yang meliputi hal

berikut:

1. Measeurement (pengukuran)

2. Comparison (pembandingan dengan setpoint)

3. Judgement (pengambilan keputusan atas hasil pemandingan)

4. Correction (perbaikan penyimpangan)

Jika berminat mengetahui apakah itu instrumentasi yang dipaparkan ala teknisi, bisa dilihat

di posting berikut yang menggupas mengenai apakah instrumentasi itu.

Kembali kepada keempat hal yang disebutkan di atas (measurement, comparison,

judgement dan correction), jika disederhanakan, pada dunia instrumentasi ada dua hal

yang mendasar yaitu, mengukur dan mengatur/mengendalikan/mengontrol (silakan

pilih salah satu istilahnya hehe, pada artikel ini saya pilih istilah “mengendalikan”).

Jadi, bagaimana caranya menjadi teknisi instrument?

Dilihat dari intisarinya: mengukur dan mengendalikan. Sebelum bisa menjawab pertanyaan

di atas, kita harus tahu dulu: apanya yang diukur? dan apanya yang dikendalikan?

Pada dunia instrumentasi, pengukuran dilakukan untuk mengetahui kuantitas dari besaran

proses yang sedang dikendalikan, misalnya pengukuran tinggi permukaan zat cair pada

sebuah tangki ataupun bejana, pengukuran temperatur sebuah tungku pembakaran,

pengukuran aliran fluida, dan lain-lain. Sedangkan pengendalian merupakan proses koreksi

dari hasil perbandingan besaran yang diinginkan dengan besaran yang didapatkan dari

hasil pengukuran. Sederhananya, jika ketinggian sebuah zat cair terlalu tinggi, maka

diturunkan, jika aliran sebuah fluida terlalu besar, maka dikecilkan, dan lain sebagainya.

Jadi, bagimana caranya menjadi teknisi instrument?

Kita ambil salah satu contoh saja, misalnya mengenai pengukuran ketinggian zat cair di

dalam sebuah tangki atau bejana. Untuk dapat mengukur ketinggian zat cair pada sebuah

tangki atau bejana, kita harus mengetahui karakter zat cair. Singkatnya, kita harus tahu

karakter fisis dari zat cair, sehingga ketinggian zat cair bisa diukur. Untuk mendapatkan

gambaran, silakan baca artikel terkait mengenai cara mengukur ketinggian zat cair melalui

pendekatan tekanan. Dari artikel tersebut kita bisa mendapat gambaran, bahwa untuk bisa

mengukur ketinggian zat cair di dalam sebuah tangki atau bejana kita perlu matematika

dan sedikit fisika. Sedikit bacaan mengenai pengukuran ketinggian zat cair, bisa dilihat di

sini

Sekarang silakan coba baca artikel berikut mengenai switch di sini dan di sini, dari dua

artikel tersebut, ternyata kita juga perlu tahu mengenai kelistrikan.

Sampai di sini, sudah terkumpul beberap hal yang harus diketahui oleh teknisi instrument:

sedikit matematika, sedikit fisika dan sedikit kelistrikan.

Jika mau dipaparkan kasus-per-kasus untuk diambil contoh, mungkin artikelnya akan

menjadi terlalu panjang. Sekarang mari kita persingkat. Sekarang ini, dunia dijejali dengan

teknologi yang berbasis elektronik baik analog dan digital, serta teknologi komputasi dan

kelengkapannya, serta teknologi informasi yang menjadi sarana tukar menukar informasi.

Tak terkecuali pada dunia instrumentasi.

representasi parameter (sinyal)

Salah satu contoh sederhana bisa dilihat pada gambar di atas, ketinggian zat cair pada

tangki bisa ditampilkan dalam sebuah layar komputer. Mari kita telusuri:

1. Hubungan antara ketinggian zat cair dengan tekanan hidrostatis (ilmu fisika dan

penerapannya).

2. Membaca tekanan hidrostatis dan mengubahnya menjadi sinyal elektrik/elektronik

yang bisa dikirim ke perangkat lain (ilmu elektrik/elektronik).

3. Sinyal elektrik dibaca dan diproses menjadi sinyal yang berguna pada DCS, PLC,

controller (ilmu elektronik, mikrokontroler, ilmu digital dll)

4. Menampilkan data dari DCS, PLC, controller pada monitor komputer (ilmu komputer,

software dan/atau hardware)

Jadi, bagaimana caranya menjadi teknisi instrument?

Oh ya, lupa, mari kita fokus lagi:

Untuk bisa menjadi teknisi instrument, silakan cermati saja hal-hal yang digambarkan pada

tulisan di atas.

Sekolah untuk menjadi teknisi instrument?

Umumnya itu adalah pertanyaan lanjutan dari pertanyaan pertama. Dulu, jaman

TeknisiInstrument mulai bekerja, perusahaan-perusahaan besar masih menerima lulusan

STM (sekarang SMK) untuk dapat menjadi teknisi instrument, dan di Cimahi ada sebuah

STM empat tahun yang memiliki jurusan Instrumentasi Industri, Gambarannya bisa dibaca

di sini. Kalau di daerah lain, TeknisiInstrument tidak tahu ada atau tidak jurusan tersebut.

Saat ini, ngobrol-ngobrol dengan teknisi instrument yang masih belia, untuk menjadi teknisi

instrument di perusahaan tertentu, konon harus D-3 jurusan tertentu. Duh.. Gusti… semakin

berat saja syarat bekerja itu… Dan konon juga, jurusan dimaksud ada yang menyebutkan

elektronika instrumentasi, elektronika, IT dll.

Jadi, bagaimana caranya menjadi teknisi instrument?

Baiklah, mari kita simpulkan tulisan simpang siur ini. Karena aturan administratif dari

perusahaan yang akan merekrut seorang teknisi instrumentasi, lulus dari sekolah formal.memang diperlukan, baik sekolah menengah maupun perguruan tinggi, tergantung dari

perusahaan yang membutuhkannya. Jurusannya bisa dipilih berdasarkan paparan di atas,

mana yang kira-kira rada nyambung, bisa jurusan elektronika, listrik, fisika dan lain-lain

yang kira-kira berhubungan.

Jika saat sekolah/kuliah belum pernah sekalipun memegang peralatan instrument,

sepertinya kursus instrumentasi bisa menjadi pilihan untuk membekali diri. Selain kursus,

untuk bisa bersentuhan dengan peralatan instrumentasi secara langsung, bisa

memanfaatkan saat-saat PKL (Praktek Kerja Lapangan) untuk benar-benar mengenali

peralatan instrumentasi.

Jika ingin bersentuhan dengan banyak peralatan instrumentasi, cobalah untuk melamar ke

perusahaan yang sering menangani proyek-proyek instrumentasi atau EPCI, jangan tanya

EPCI itu apa ya.. hehehe), karena pada perusahaan proyek tersebut biasanya ada kegiatan

pemasangan, commissioning, troubleshooting dll, pokoknya lengkap. Cobalah untuk

menjadi helper terlebih dahulu sebagai starting point.

Pelajaran sekolah apa yang sangat bermanfaat untuk menjadi teknisi

instrument?

Sederhana sebetulnya, pelajaran yang sangat bermanfaat untuk menjadi teknisi instrument,

dan bahkan (mungkin) jenis pekerjaan lainnya, adalah pelajaran SD atau sekolah dasar.

Lho, koq bisa…? Ya, pelajaran yang dimaksud adalah membaca dan menulis. Tentunya

dengan tidak merendahkan pelajaran lanjutan lainnya seperti matematika, fisika dan lain-

lain, hanya saja, membaca dan menulis adalah modal bekerja. Karena setiap peralatan

instrumentasi umumnya dilengkapi dengan buku panduan bagaimana cara menanganinya,

dari mulai memilih, memasang, mengkonfigurasi, merawat dll. Sehingga untuk bisa

menangani peralatan instrument tersebut, kita harus membaca buku panduannya, dan

menuliskan hal-hal penting untuk referensi. Dan satu lagi, karena umumnya buku panduan

dimaksud kebanyakan menggunakan Bahasa Inggris, alangkah bijaknya jika bahasa

tersebut kita pelajari sebagai modal.

Demikian pemaparan yang (mungkin) ngawur mengenai bagaimana caranya menjadi

teknisiinstrument. Semoga bermanfaat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dasar teori PLC

Jenis-jenis valve dan fungsinya