Kalibrasi temperature pada PT100
Abstrak
Kalibrasi temperatur berupa PT100 maupun thermocouple dapat menggunakan metode perbandingan maupun simulasi.
Metode perbandingan digunakan dengan cara membandingkan kalibrator standar berupa es batu maupun air mendidih
terhadap indikator digital controller E5EK Omron. Data pengukuran temperatur dihitung melalui ketidakpastian standar,
ketidakpastian master, ketidakpastian gabungan, dan ketidakpastian terentang. Hasil data pengukuran dibuat Simulasi
dengan manipulasi data pada indikator digital controller E5EK Omron dengan cara mencari InsL dan InsH untuk
menentukan nilai nominal temperatur.
Abstract
Temperature Calibration of PT100 and Thermocouple. The method of comparison used by comparing the calibrator
standard form of ice cubes and boiling water to E5EK Omron controllers digital indicators. Temperature measurement
data is calculated through a standard uncertainty, uncertainty master, uncertainty and uncertainty combined
outstretched. Simulation results of the measurement data created by the manipulation of data on indicators digital
controller E5EK Omron by searching InsL and InsH nominal value of the temperature.
Keywords: calibrator standar, simulation, thermocouple
1. Pendahuluan
Setiap Instrumen Alat Ukur/sensor sebelum digunakan
atau setelah digunakan pada periode tertentu (6 bulan
atau 12 bulan), harus dilakukan pengukuran dan
dikalibrasi sesuai standar nasional ataupun
internasional. Alat ukur/sensor merupakan ujung
tombak dalam kualitas produk yang dihasilkan, karena
langsung berhubungan dengan proses, sehingga perlu
dipelihara untuk mendapatkan umur (life time) yang
panjang. Sensor temperatur pada themocouple ataupun
PT100, banyak digunakan dalam industri yang
menggunakan mesin pemanas, sebagai alat ukur
temperatur supaya tetap stabil. Pengukuran adalah
berupa proses menyatakan suatu angka secara empirik
dan objektif pada kejadian nyata sedemikian rupa,
sebagai angka tadi dapat menjadikan gambaran yang
jelas mengenai objek atau kejadian tersebut. Kalibrasi
merupakan suatu kegiatan untuk menentukan
keberadaan konvensional nilai penunjukkan alat ukur
dan bahan ukur berdasarkan standar [1]. Untuk proses
kalibrasi, perlu ada pengukuran terlebih dahulu pada
objek yang ada misalnya pada temperatur proses. Ada
beberapa metode dalam kalibrasi antara lain simulasi,
perbedaan fasa. Umumnya yang banyak digunakan
berupa metode kalibrasi perbandingan untuk
membandingkan kalibrator standar alat ukur terhadap
beban ukur yang dipakai, baru dilakukan perhitungan
deviasi berdasarkan standar. Cara ini memerlukan
standar kalibrator yang harus dikalibrasi di Lembaga
Kalibrasi KAN/LIPI sehingga harganya mahal. Untuk
kalibrasi alat ukur/sensor suhu yang berupa
thermocouple ataupun PT100 dapat menggunakan
media kalibrasi yang berupa bak air 1–100 °C, bak es
0 °C.
Pemanfaatan kalibrator standar dari temperatur es (0 °C)
dan temperatur suhu air mendidih (100 °C). Setelah
dibandingkan dengan bahan yang diukur (PT100) baru
dibuat simulasi sehingga dapat menentukan
deviasi/kesalahan dari PT100 yang dilihat pada
indicator controller. Hal ini merupakan suatu ide baru
untuk menggantikan peranan kalibrator yang ada
(metode Perbandingan). Indicator controller dapat diset
100 JURNAL ILMIAH ELITE ELEKTRO, VOL. 2, NO. 2, SEPTEMBER 2011: 99-104
sesuai dengan hasil yang diperoleh dari hasil
perbandingan dan simulasi [2].
Pemanfaatan dari hasil penelitian ini berupa: bahan
pembelajaran Instrumentasi Industri bagi pengajar,
mahasiswa listrik dan elektronik pada Jurusan Teknik
Elektro. Ide baru dalam kalibrasi temperatur
menggantikan cara konvensional yang berupa metode
perbandingan sehingga dapat digunakan oleh teknisi
industri instrumen sebagai alat ukur kalibrasi mandiri
tanpa diberikan ke vendor (teknisi instrumen dari luar),
sehingga akan mengurangi biaya. Cara termudah untuk
mengkalibrasi temperatur (PT100, Thermocouple) yang
banyak digunakan oleh industri tanpa kalibrator
pembanding.
Adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah
bagaimana membuat model kalibrasi sensor temperatur
(PT100 dan Thermocouple) dengan metode
perbandingan dan simulasi dari kalibrator suhu 0 °C
(bak es) dan suhu 100 °C (bak air mendidih), dan
membuat analisis ketidakpastian berdasarkan
deviasi/kesalahan; bagaimana menetapkan parameter-
parameter temperatur nominal yang diizinkan sesuai
standar pada model simulasi indicator controller yang
merupakan suatu nilai dari kalibrasi PT100 dan
Thermocouple. Ketidakpastian pengukuran adalah
proses mengaitkan sesuatu angka secara empirik dan
obyektif pada sifat-difat obyek atau kejadian nyata
sedemikian rupa sehingga angka tadi dapat memberikan
gambaran yang jelas mengenai obyek atau kejadian
tersebut. membuat gambaran/deskripsi; memperkirakan/
meramalkan; mengadakan komunikasi; memutuskan;
mengatur/mengendalikan, dan memberikan reaksi. Hasil
pengukuran harus mencantumkan suatu perkiraan yang
menggambarkan seberapa besar kesalahan yang
mungkin terjadi, dalam batas-batas kemungkinan yang
wajar. Nilai ini sekaligus menunjukkan kualitas
pengukuran. Semakin kecil nilai perkiraan itu, berarti
semakin baik pula kualitas pengukurannya [3]. Kalibrasi
adalah suatu kegiatan untuk menentukan kebenaran
kovensional nilai penunjukkan alat ukur dan bahan
ukur. Pelaksanaan kalibrasi dilakukan dengan cara
membandingkan alat ukur dan bahan ukur yang akan
dikalibrasi terhadap sandar ukurnya yang mampu
telusur (traceable) ke standar nasional dan atau
internasional. Sedangkan tujuan dengan kalibrasi dapat
ditentukan deviasi kebenaran konvensinal nilai
penunjukkan suatu alat ukur, atau deviasi dimensi
nominal yang seharusnya suatu bahan ukur. Manfaat
dengan kalibrasi kondisi alat ukur dan bahan ukur dapat
dijaga tetap sesuai dengan spesifikasinya. Yang perlu
dikalibrasi semua jenis alat ukur pelu dikalibrasi, baik
alat ukur besaran dasar (panjang, massa, waktu, arus
listrik, suhu, jumlah zat, intensitas cahaya), luas, isi,
kecepatan, tekanan, gaya, frekuensi, energi, gaya dan
sebagainya. Periode kalibrasi bila suatu alat ukur
termasuk katagori legal, maka periode kalibrasinya telah
ditentukan, kalibrasinya tergantung pada keperluan dan
atau frekuensi penggunaanya. Beberapa contoh periode
kalibrasi untuk beberapa instrument ukur tertentu:
thermocouple 2 bulan; therm. controller 12 bulan;
hygrometer 6 bulan; micrometer 3 bulan; vernier caliper
12 bulan; Gauge block 24 bulan; profile proyektor 12
bulan [2]. Metode kalibrasi suhu: perbandingan;
perubahan fasa (titik tetap); Ketidakpastian
(pengukuran): suatu parameter berupa rentang
kumpulan nilai-nilai yang dapat dianggap mencakup
nilai measurement. Karena tidak mungkin melakukan
pengukuran dengan ketepatan dan ketelitian yang
mutlak, maka juga tidak mungkin membuat suatu benda
dengan ukuran yang tepat sama dengan spesifikasi yang
diminta. Memahami kenyataan ini, para perancang
teknik memberikan suau batas toleransi dalam
rancangan benda produksi. Batas toleransi adalah
besarnya kesalahan yang paling besar yang diperkirakan
atau dianggap tidak akan mengurangi mutu produk atau
menggangu fungsinya. Artinya, jika terjadi kesalahan
dalam proses produksi sehingga ukuran benda yang
dibuat berbeda dengan ukuran dalam rancangan,
diharapkan benda itu tetap dapat berfungsi asalkan
kesalahannya lebih kecil dari pada toleransinya.
Toleransi: Besarnya kesalahan yang diijinkan dari nilai
spesifikasi. Untuk menghitung ketidakpastian
pengukuran dapat berupa memperhitungkan pengaruh
ketidakpastian dalam suatu pengukuran terhadap
pengukuran lain yang berkaitan dengan pengukuran
tersebut. Metode untuk menghitung ketidakpastian
pengukuran telah dibuat oleh berbagai lembaga, namun
yang digunakan sebagai acuan internasional adalah
dokumen yang dikeluarkan oleh Oganisasi Standarisasi
Internasoanal (ISO). Dokumen itu berjudul Guide to the
Expression of Uncertainly in Measurement (ISO GUM).
Sesuai dengan namanya sesungguhnya dokumen ini
bukanlah dokumen baku (standar) yang bersifat
mengikat, melainkan hanya sebuah panduan. Pedoman
KAN DP.01.23 [4]. Setiap pengukuran pasti
mengandung kesalahan (error). Kesalahan tersebut
ditimbulkan oleh berbagai faktor diantaranya adalah:
operator, instrumen ukur, kondisi lingkungan, obyek
ukur, metode pengukuran. Komponen pengukuran dapat
dibagi menjadi beberapa kelompok: standar atau acuan:
benda ukur, peralatan, metode, lingkungan, personil
atau perilaku pengukuran.
ISO guide mendefinisikan dua jenis atau katagori
komponen ketidakpastian,tipe A dan tipe B yang
dibedakan menurut metode evaluasinya. Tipe A
dievaluasi dengan menggunakan metode statistik yang
baku untuk menganalisis satu himpunan atau sejumlah
himpunan pengukuran, dan mencakup jenis kesalahan
yang disebut kesalahan acak. Kesalahan ini dicirikan
oleh taksiran variasi atau simpangan baku, nilai rata-rata
dan derajat kebebasan. Tipe B dievaluasi dengan cara
selain analisis statistik pada sejumlah pengamatan.
Ketidakpastian ini mencakup kesalahan yang. Dicirikan
oleh taksiran variasi atau simpangan baku, nilai rata-rata
dan derajat kebebasan. Menghitung ketidakpastian
pengukuran yang diuraikan dalam ISO Guide mencakup
langkah-langkah evaluasi berupa: Kenali faktor-faktor
yang berkontribusi pada ketidakpastian; Buat model
matematik pengukuran; Cari ketidakpastian baku
masing-masing komponen; Hitung ketidakpastian baku
gabungan; Hitung ketidakpastian terentang dengan
menggunakan factor cakupan. Sumber ketidakpastian
yang paling berpengaruh dalam pengukuran adalah:
Daya baca alat ukur (skala atau tampilan alat);
Kebenaran nilai instrumen acuan (sertifikasi kalibrasi);
Sebaran nilai-nilai pengukuran (pengukuran berulang).
Model matematika pengukuran berupa persamaan yang
menunjukkan hubungan antara input dan output. Nilai
pengukuran = Penunjukkan alat ukur + Koreksi alat
ukur [5]. Ketidakpastian baku dihitung dengan
Persamaan:
Tipe A dari pengukuran berulang
n
s
u =
Tipe B dari resolusi alat ukur
n
s
u =
Tipe B dari sertifikasi kalibrasi
n
s
u =
Keterangan: s = simpangan baku; n = banyaknya
pengukuran; a = setengah dari resolusi terkecil yang
dapat dibaca. u = nilai ketidakpastian pada tingkat
kepercayaan 95% yang dicantumkan dalam sertifikat
kalibrasi. Derajat kebebasan
Tipe A→ v = n – 1
Tipe B→ ⎟
⎠
⎞ ⎜
⎝
⎛ = R
v
100
2
1
R = relative uncertainly
Derajat kebebasan efektif:
...
2
2
1
1 = + + +
v
U
v
U
verrot Uc (1)
Ketidakpastian baku gabungan (Combined standar
uncertainly):
Uc = C1U1 + C2U2 + C3U3 +… (2)
Ketidakpastian terentang:
U = k, Uc
Ruang kepercayaan 68%, dengan faktor cakupan 1,
ruang kepercayaan 95% dengan faktor cakupan 2, ruang
kepercayaan 99,73% dengan faktor cakupan 3.
Evaluasi ketidakpastian tipe A. Ketidakpastian
standar tipe A dievaluasi dengan metode statistik dari
suatu seri pengamatan pengukuran. Komponen evaluasi
ke...., ketidakpastian standar tipe A berasal dari efek
random. Pada umumnya estimasi terbaik dari nilai suatu
besaran q yang bervariasi secara random (acak) adalah
nilai rata-rata q. Deviasi standar eksperimen s (q)
digunakan untuk mengestimasi distribusi q; deviasi
standar eksperimen dari rata-rata s (q) digunakan untuk
mengestimasi selebaran distribusi rata-rata. Dalam
mendokumentasikan evaluasi komponen-komponen
ketidakpastian tipe A, maka derajat kebebasan harus
dicantumkan.
Evaluasi ketidakpastian standar B. Evaluasi
ketidakpastian tipe B dilakukan tidak dengan cara
analisis statistik dari seri pengamatan pengukuran.
Tetapi dievaluasi berdasarkan penetapan secara ilmiah
menggunakan informasi-informasi yang tersedia seperti:
data pengukuran sebelumnya, pengalaman, sifat-sifat
material/instrument secara umum, spesifikasi pabrik,
data dari laporan/sertifikasi kalibrasi, data yang diambil
dari buku/literatur. Dalam mempertimbangkan
ketidakpastian tipe B kita harus mengubah dari
ketidakpastian yang dikutip ke ktidakpastian standar,
dengan cara membagi dengan faktor pengali. Dalam
sertifikat kalibrasi tercantum nilai ketidakpastian
sebesar 4 Pa dengan faktor pengali 2. Maka
ketidakpastian standar = 2 Pa. Cara lain untuk
mengubah ketidakpastian yang dikutip dari
ketidakpastian standar adalah dengan cara membagi
dengan suatu faktor yang bergantung pada distribusi
probabilitas. distribusi probabilitas rectangular.
Ketelitian pengukuran sebuah voltmeter 0,05%, maka
batas setengah interval adalah 0,005% dan
ketidakpastian standar dihitung dengan rumus: U (v) =
0,005%, distribusi probabilitas triangular. Distribusi ini
merupakan model yang lebih baik, jika diketahui bahwa
kebanyakan nilai-nilai pengukuran mendekati pusat
(center) distribusi. Ketidakpastian standar dihitung
dengan membagi setengah interval (a) dengan akar
enam, Distribusi probabilitas normal (Gauss). Bentuk
distribusi ini digunakan untuk ketidakpastian yang
mempunyai interval kepercayaan 95% atau 99%.
Ketidakpastian standar dihitung dengan cara membagi
ketidakpastian kutipan dengan suatu faktor. Distribusi
rectangular merupakan model yang sering digunakan
terutama bila tidak dapat diketahui model tertentu
seperti model-model distribusi triangular, normal dan
lainnya. Pada umumnya kita dapat mengganggap derajat
kebebasan tak terhingga.
Suatu bahan ukur (sensor suhu PT100) kalibrasi kondisi
alat ukur dan bahan ukur dapat dijaga tetap sesuai
seperti aslinya. Semua jenis alat ukur perlu dikalibrasi
baik alat ukur besaran tekanan, teperatur, level dan
sebagainya [1]
Persamaan simulasi pada indicator controller
menggunakan Omron Mk 500 adalah:
{ ( )} ( ) ( ) 2 2 1 1 1 1
1
1 X Y X Y X Y
Y Y
Y Y I
L
L
SL − − − + − −
− η = (3)
{ ( )} ( ) ( ) 2 2 1 1 1 1
1
1 X Y X Y X Y
Y Y
Y Y I
L
H
SH − − − + − −
− η = (4)
Dengan YL = set temperatur low limit, Yh = set
temperatur high limit, Y1 = penunjukkan indikator
pertama, Y2 = penunjukkan indikator kedua, X1 =
temperatur standar pertama, X2 = temperatur standar
kedua. Dari persamaan di atas dapat dibuat simulasi
pada indicator controller (Omron Type EK 500).
2. Metode Penelitian
Merancang dan membuat model kalibrasi pada sensor
temperatur (PT100, dan thermocouple) dengan metode
perbandingan dan simulasi. Mengimplementasikan
bentuk matematika untuk proses kalibrasi dengan
metode simulasi hasil dari metode perbandingan dari
suatu pengukuran sensor temperatur PT100 dan
thermocouple. Sebagai langkah awal dari suatu
pembuktian teori yang dikembangkan melalui tahapan
model dari kalibrasi dengan metode perbandingan dan
dibuat simulasi pada indicator controller untuk sensor
suhu PT100 dan thermocouple. Sebagai media
pembelajaran bagi pengajar dan mahasiswa Teknik
Elektro dalam mata kuliah Instrumentasi Industri, yang
selama ini masih menggunakan metode perbandingan.
Sebagai acuan bagi teknisi instrumen di industri akan
pentingnya kalibrasi dari suatu alat ukur/sensor
temperatur, dapat dikerjakan sendiri tanpa perlu
kalibrator dari vendor, yang selama ini digunakan,
sehingga akan menghemat waktu dan biaya.
3. Hasil dan Pembahasan
Pengambilan data di Laboratorium Elektronik dan alat
yang diperlukan untuk kalibrasi temperatur berupa:
master kalibrasi berupa thermos es (0 °C) dan air
mendidih (100 °C) pada heater, Alat yang dikalibrasi
(indikator) E5EK Omron, Pedoman pelaksanaan,
kalibrasi (SOP), Pelaksanaan kalibrasi dilaksanakan
pada indicator E5EK yang terpasang pada mesin yang
mengatur temperatur misalnya mesin curing pada proses
pembuatan ban [6-7]. Kalibrasi harus sesuai dengan
bagan alir seperti ditunjukkan pada Gambar 1.
Data pengukuran dan analisis set-up peralatan indikator
berupa E5EK Omron digital controller. Ada 3 data
pengukuran: minimal, medium, dan maksimal [8-9].
Data pengukuran PT 100 setelah dikalibrasi (Gambar 2), data
pengukuran PT 100 setelah dikalibras
Perhitungan Ketidakpastian:
0,3
1
( )
100
1
2 =
−
−
° =
∑∞
i= n
X X
Air mendidih C Usd
; 0,15
2 = = Usd Um ;
0,33 2 2 Uc = Usd +UM = ; U exp=UcxK= 0,65
Dengan: Usd= ketidakpastian standar, Um=
ketidakpastian master, Uc= ketidakpastian gabungan,
Uexp= ketidakpastian terentang, tingkat kepercayaan
95% (K=2).
Dari data perbandingan dapat dibuat simulasi dengan
manipulasi data pada digital controller E5EK OMRON.
Setting 1. PT 100:
{ }( ) ( )( ) 2 2 1 1 1 1
2 1
1 x X Y X Y X Y
Y Y
Y Y
In SL L − − − + − −
− = .....(5)
InSL = −11,5
{ }( ) ( )( ) 2 2 1 1 1 1
2 1
1 x X Y X Y X Y
Y Y
Y Y In SH H − − − + − −
− = .....(6)
InSH = 37
Setting pada level 2 digital controller = Indikator
ESEK.
Tabel 1. Data Pengukuran PT100 sebelum Dikalibrasi
Actual °C Koreksi °C Usd Um Uc Ucxp
5,0
56
5,6
6,2
0,42 0,21 0,47 0,94
106,4
107,2
107,0
10,686 0,30 0,15 0,33 0,65
Tabel 2. Data Pengukuran PT100 setelah Dikalibrasi
(Gambar 2)
Master
[°C]
Actual
[°C] Koreksi Usd Um Uc Uexp
0,0
Es Batu
0,0
0,1
0,2
0,1 0,05 0,025 0,056 0,1
Tabel 3. Data Pengukuran Thermocouple
Master
°C
Actual
°C
Koreksi Usd Um Uc Uexp
100,00
Air mendidih
98,2
97,8
98,0
98 0,14 0,07 0,156 0,31
Tabel 4. Data Pengukuran Thermocouple sebelum
Dikalibrasi dengan DWT Callibrator
Master
[°C]
Actual Penunjukan Koreksi
130,0 129,57
129,57
129,57
141
141
140
10,6
160,0 159,46
159,46
159,46
171
170
171
10,6
190,0 189,48
189,48
189,48
200
199
200
9,66
4. Simpulan
PT100 sebelum dikalibrasi dengan air mendidih (100
°C) Uexp = 0,65, setelah dikalibrasi mendapatkan Uexp
= 0,31 dengan tingkat kepercayaan 95% (K=2).
Simulasi pada kalibrasi PT100 dengan es batu dan air
mendidih (100 °C) dengan manipulasi data pada
indikator controller ESEK akan mendapatkan In SL = -
11,5 dan In SH = 37 pada posisi level 2. Untuk kalibrasi
temperatur PT100 dan thermocouple dapat
menggunakan kalibrator standar berupa es batu (0 °C)
dan air mendidih (100 °C). Hasil perhitungan
ketidakpastian dari PT100 adalah dengan thermocouple
adalah simulasi dengan manipulasi data pada digital
controller ESEK OMRON didapatkan: In SL= -14,2; In
SH= 102,4; terdapat pada level 2.
Daftar Acuan
[1] M.C. Douglas, Process Instrumentations and
Controls Handbooks, MC Graw Hill International,
Los Angeles, 2003, p.1356.
[2] R.K. Jain, Mechanical and Industrial Measurement,
Khana Publishers, Delhi, 2002, p.805.
[3] C.T. Killian, Modern Control Technologi:
Components and Systems, 2nd ed., Delmar
Publisher/ Delmar/Thomson Learning, Singapore,
2005, p.628.
[4] KAN/BSN, Pedoman Kalibrasi Multimeter Digital
(DMM), Komite Akreditasi Nasional, Jakarta,
2006, DP.yy.xx, http://www.bsn.or.id, 2006.
[5] P. Dostálek, V. Vašek, J. Dolinay, WSEAS Trans.
Syst. Control, 3/9 (2008) 779.
[6] H. Fang, K. Fang, International Conference on
Measuring Technology and Mechatronics
Automation, 3 (2010) 852.
[7] F. Carden, R. Jedlicka, R. Henry, Telemetry
System Engineering, Artech House, Norwood, MA,
USA, 2002, p.596.[8] Y.C. Lim, A.Z. Kouzani, W. Duan, A. Kaynak,
IEEE/ICME International Conference on Complex
Medical Engineering, Gold Coast, Australia, 2010,
p.396.
[9] I.T. Jolliffe, Principal Component Analysis, 2nd
ed., Springer-Verlag New York Inc., New York,
2002, p.487.
[10]J.M. Vidal, P. Buhler, C. Stahl, Multi-Agent
Systems with Workflows, IEEE Internet Comput.
8/1 (2004) 76.
Komentar
Posting Komentar