Kalibrasi temperature pada PT100

 Abstrak  Kalibrasi temperatur berupa PT100 maupun thermocouple dapat menggunakan metode perbandingan maupun simulasi.  Metode perbandingan digunakan dengan cara membandingkan kalibrator standar berupa es batu maupun air mendidih  terhadap indikator digital controller E5EK Omron. Data pengukuran temperatur dihitung melalui ketidakpastian standar,  ketidakpastian master, ketidakpastian gabungan, dan ketidakpastian terentang. Hasil data pengukuran dibuat Simulasi  dengan manipulasi data pada indikator digital controller E5EK Omron dengan cara mencari InsL dan InsH untuk  menentukan nilai nominal temperatur.  Abstract  Temperature Calibration of PT100 and Thermocouple. The method of comparison used by comparing the calibrator  standard form of ice cubes and boiling water to E5EK Omron controllers digital indicators. Temperature measurement  data is calculated through a standard uncertainty, uncertainty master, uncertainty and uncertain...

PEMEROGRAMAN PLC

 PENDAHULUAN 

Setelah mempelajari bagian-bagian dan prinsip kerja PLC maka selanjutnya akan 

dibahas tentang pemrograman PLC. Karena PLC bersifat softwire, di mana fungsi kontrol 

dapat secara mudah diubah dengan mengganti programnya menggunakan suatu software, 

sehingga pemrograman merupakan hal yang sangat penting dalam pembahasan tentang 

PLC. Bahasa pemrograman PLC mudah dipahami sebab sebagian besar berkaitan dengan 

operasi-operasi logika dan penyambungan. 

Pada bagian ini akan dibahas model pemrograman PLC (difokuskan pada ladder 

diagram dan kode mnemonik) dan contoh-contoh sederhana pada beberapa jenis PLC. 

Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa diharapkan dapat membuat program-

program sederhana dalam bentuk ladder diagram dan kode mnemonik dengan fungsi-

fungsi dasar dan menengah pada beberapa jenis PLC. 

5.1 MODEL PEMROGRAMAN 

 Menurut Setiawan (2006:9), berkaitan dengan pemrograman PLC, ada lima model 

atau metode yang distandarnisasi penggunaannya oleh IEC (International Electrical 

Commission) 61131-3, yaitu: 

1. Instruction List (Daftar Instruksi) – Pemrograman dengan menggunakan instruksi-

instruksi bahasa level rendah (mnemonic), seperti LD/STR, NOT, AND, dan 

sebagainya. 

2. Ladder Digram (Diagram Tangga) - Pemrograman berbasis logika relai, cocok 

digunakan untuk persolan-persoalan kontrol diskrit yang kondisi input outputnya 

hanya memiliki dua kondisi yaitu ON dan OFF, seperti pada sistem kontrol 

konveyor, lift, dan motor-motor industri. 

3. Function Block Diagram (Diagram Blok Fungsional) – Pemrograman berbasis 

aliran data secara grafis. Banyak digunakan untuk tujuan kontrol proses yang 

melibatkan perhitungan-perhitungan kompleks dan akuisisi data analog. 

4. Sequential Function Charts (Diagram Fungsi Sekuensial) – Metode grafis untuk 

pemrograman terstruktur yang banyak melibatkan langkah-langkah rumit, seperti 

pada bidang robotika, perakitan kendaraan, batch control, dan sebagainya

5. Structured Text (Teks Terstruktur) – Pemrograman ini menggunakan statemen-

statemen yang umum dijumpai pada bahasa level tinggi (high level programming) 

seperti If/Then, Do/While, Case, For/Next, dan sebagainya. Dalam aplikasinya, 

model ini cocok digunakan untuk perhitungan-perhitungan matematis yang 

kompleks, pemrosesan tabel dan data, serta fungsi-fungsi kontrol yang 

memerlukan algoritma khusus. 

Walaupun hampir semua vendor PLC telah mendukung kelima model pemrograman 

tersebut, tetapi secara de facto sampai saat ini yang sangat luas penggunaannya terutama 

di industri adalah Ladder Diagram. Alasan utamanya adalah karena diagram ini mirip 

dengan diagram kontrol elektromekanis yang sebelumnya sudah banyak digunakan di 

industri. 

 Dalam pembahasan selanjutnya akan dijelaskan metode pemrograman diagram 

tangga (ladder diagram programming) dan metode daftar instruksi. Metode 

pemrograman tangga menyediakan suatu cara untuk menuliskan program, yang kemudian 

dapat dikonversikan menjadi kode mesin oleh suatu software, sehingga dapat digunakan 

oleh mikroprosesor PLC. Dengan metode daftar instruksi, kode-kode mnemonik 

dipergunakan, di mana tiap-tiap kode diasosiasikan dengan sebuah elemen diagram 

tangga. 

 Diagram tangga adalah suatu diagram mirip anak tangga yang menggambarkan 

urutan kerja dari sistem kontrol. Ladder diagram menggunakan simbol standar untuk 

merepresentasikan elemen rangkaian dan fungsi dalam sistem kontrol. Ladder diagram 

terdiri dari dua garis vertikal. Antara kedua garis vertikal tersebut terdapat simbol-simbol 

switch contact normally open (NO), switch contact normally closed (NC), timer, counter, 

fungsi, dan output (coil). Menurut Bolton (2004: 63), dalam menggambarkan diagram 

tangga, diterapkan konvensi-konvensi tertentu: 

- Garis-garis vertikal diagram merepresentasikan rel-rel daya, di mana di antara 

keduanya komponen-komponen rangkaian tersambung. 

- Tiap-tiap anak tangga mendefenisikan sebuah operasi di dalam proses kontrol. 

- Sebuah diagram tangga dibaca dari kiri ke kanan, dan dari atas ke bawah. 

- Tiap-tiap anak tangga harus dimulai dengan sebuah input atau sejumlah input, dan 

harus berakhir dengan setidaknya sebuah output. 

- Perangkat-perangkat listrik ditampilkan dalam kondisi normalnya.

Sebuah perangkat tertentu dapat digambarkan pada lebih dari satu anak tangga. 

Sebagai contoh, sebuah relai dapat menyalakan satu atau lebih perangkat listrik. 

- Seluruh input dan ouput diidentifikasikan melalui alamat-alamatnya, notasi yang 

digunakan bergantung pada pabrik PLC yang bersangkutan. Alamat ini 

mengindikasikan lokasi input atau output di dalam memori PLC. Sebagai contoh: 

Mitsubishi mengawali alamat untuk input dengan sebuah huruf X dan untuk output 

dengan huruf Y, misalnya alamat input X400, dan alamat output Y430. 

Toshiba juga menggunakan sebuah huruf X dan huruf Y, misalnya alamat input 

X000, dan alamat output Y000. 

Siemens mengawali alamat-alamat input dengan huruf I dan output dengan huruf Q, 

misalnya: I0.1, dan Q2.0. 

Sprecher+Schuh mengawali alamat-alamat input dengan huruf X dan output dengan 

huruf Y, misalnya: X001, dan Y001. 

Allen Bradley menggunakan huruf I dan O, misalnya: I:21/01, dan O:22/01. 

Telemechanique menggunakan huruf I dan O, misalnya: I0.0, dan O0.0. 

OMRON mengawali alamat input dengan 000. dan output dengan 010. Misalnya: 

input 000.00, dan output 010.00. 

Dalam PLC-PLC yang berukuran lebih besar, yang memiliki sejumlah rak untuk 

kanal-kanal input dan output, rak-rak tersebut diberi nomor. Misalnya Allen Bradley PLC-

5, rak yang memuat prosesor diberi nomor 0 dan alamat rak-rak lainnya diberi nomor 1, 

2, 3, dan seterusnya sesuai dengan posisi yang ditetapkan untuk saklar-saklar yang 

bersangkutan. Masing-masing rak dapat dapat memuat beberapa buah modul dan tiap-tiap 

modul menangani sejumlah input dan atau output. Sistem pengalamatan Allen Bradley 

PLC-5 diperlihatkan pada Gambar 5.1. 

 

 Gambar 5.1. Sistem pengalamatan Allen Bradley PLC-5 

Dengan Siemens SIMATIC S5, input-input dan output-output ditata dengan kelompok-

kelompok yang terdiri dari 8 unit. Tiap-tiap kelompok disebut sebagai byte dan tiap-tiap 

terminal input atau output di dalam sebuah kelompok disebut sebagai bit. Dengan

demikian, masing-masing input atau output memiliki alamat yang disusun dalam konteks 

nomor byte dan nomor bit, secara efektif mengindikasikan nomor sebuah modul yang 

diikuti oleh nomor sebuah terminal, dengan tanda titik (.) yang memisahkan antara kedua 

nomor tersebut. Sistem pengalamatan Siemens SIMATIC S5 diperlihatkan pada Gambar 

5.2. 

 

 Gambar 5.2. Sistem pengalamatan Siemens SIMATIC S5 

Selain menggunakan sistem pengalamatan untuk mengidentifikasikan input dan output, 

PLC-PLC juga menggunakannya untuk mengidentifikasikan piranti-piranti internal yang 

dibuat oleh software, seperti relay (saklar), timer (pewaktu), dan counter (pencacah).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dasar teori PLC

Cara menjadi technician instrument

Jenis-jenis valve dan fungsinya